my foto

my foto
ride at puncak

Senin, 17 Desember 2012

Pengaruh pemberian reward dan punishment score terhadap hasil belajar matematika siswa


Pengaruh Pemberian Tes Formatif Pilihan Ganda dengan Reward dan Punishment
Score Terhadap Hasil Belajar
Matematika Siswa
Dody Adyansyah

Program Studi Pendidikan Matematika
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Muhammadiyah Prof. DR HAMKA, Indonesia


ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui terdapat atau tidaknya pengaruh pemberian tes formatif pilihan ganda dengan reward dan punishment score terhadap hasil belajar matematika siswa pada pokok bahasan sistem persamaan linear dua variabel. Sebagai eksperimen dilakukan pembelajaran dengan memberikan tes formatif pilihan ganda tanpa reward dan punishment score. Tes formatif pilihan ganda dengan reward dan punishment score adalah soal bentuk pilihan ganda yang diberikan pada akhir satuan pembelajaran dengan memberikan skor lebih pada siswa yang menjawab benar dan pengurangan skor pada siswa yang menjawab salah. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah : ”Terdapat pengaruh pemberian tes formatif pilihan ganda dengan reward dan punishment score terhadap hasil belajar matematika siswa pada pokok bahasan sistem persamaan linear dua variabel”. Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 188 Jakarta pada semester ganjil tahun pelajaran 2011/2012. Sampel diambil secara acak sederhana dengan mengambil 60 siswa yang terdiri dari 2 kelas. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa terdapat pengaruh pemberian tes formatif pilihan ganda dengan reward dan punishment score terhadap hasil belajar matematika siswa pada pokok bahasan sistem persamaan linear dua variabel.
Kata kunci :  tes formatif , soal pilihan ganda, reward score, punishment score, hasil belajar matematika siswa
A.      Latar belakang
Menghafal dan memahami rumus-rumus matematika memerlukan kemampuan, cara belajar, dan motivasi belajar matematika yang baik. Guru harus bisa meningkatkan hal tersebut supaya siswa mampu mempelajari matematika dengan baik. Untuk itu guru harus mampu memahami gejala-gejala psikologi siswa yang tiap hari bisa berubah tergantung pada suasana batin dan kecemasan siswa yang akan berpengaruh pada kemampuan, cara belajar dan terutama motivasi mereka dalam belajar matematika.
Kemampuan, cara belajar dan motivasi siswa dalam belajar matematika akan sangat berpengaruh pada hasil belajar matematika siswa. Jika kemampuan, cara belajar dan motivasi siswa dalam belajar matematika rendah, maka hasil belajar matematika siswa pun akan rendah. Dan begitu juga sebaliknya, jika kemampuan, cara belajar dan motivasi siswa dalam belajar matematika tinggi, maka hasil belajar matematika siswa pun akan tinggi.
Biasanya guru hanya fokus untuk menyelesaikan materi tanpa peduli akan kemampuan, cara belajar dan motivasi siswa dalam belajar matematika, sehingga pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan kurang dan berakibat pada rendahnya hasil belajar matematika siswa. Selain itu ketidaktahuan guru dan siswa akan kelebihan ataupun kelemahan mereka dalam mengajar dan belajar menjadi salah satu faktor rendahnya hasil belajar siswa.
Tes formatif yang bisa memberikan umpan balik pada setiap satuan pembelajaran sehingga guru dan murid mengetahui kelemahan dan kelebihan nya jarang dilakuan guru karena waktu yang relatif singkat. Sulitnya menentukan bentuk tes yang sesuai juga menjadi salah satu faktor guru tidak mengadakan tes formatif. selain itu juga, kebiasaan buruk siswa seperti menebak jawaban, mencontek, kerjasama dalam menjawab soal membuat tes yang diberikan kepada mereka menjadi tidak efektif.
Tes formatif sangat bermanfaat untuk mengetahui kelebehian dan kekurangan guru dan murid dalam proses belajar mengajar. Seperti pengertin yang dikemukakan Ahiri (2008 : 106) dalam bukunya, bahwa tes adalah suatu instrumen yang berguna untuk mendiagnosa kekuatan dan kelemahan siswa, mengetahui perkembangan siswa, menentukan peringkat siswa, dan menentukan kefektifan pembelajaran.
Bentuk tes objektif pilihan ganda bisa digunakan sebagai tes formatif karena bentuk tes ini tidak membutuhkan waktu yang lama baik dalam menjawab ataupun memeriksa hasil jawaban siswa. Tapi bentuk tes objektif pilihan ganda memudahkan siswa untuk bisa menebak jawaban tanpa resiko apapun, mencontek dan melakukan kerjasama sesama teman. Kebiasaan buruk siswa menebak, mencontek, dan kerjasaama menjawab soal perlu diatasi. Salah satu cara mengatasi hal ini adalah dengan memberikan hukuman (punishment) pada siswa yang melakukan kebiasaan buruk tersebut dan memberikan hadiah (reward) pada siswa yang tidak melakukan hal tersebut atau melakukan hal benar. Namun pemeberian reward dan punishment pada siswa tidak boleh sembarangan, untuk itu sebaiknya reward dan punishment diberikan dalam bentuk skor pada penskoran butir-butir soal tes yang diberikan, salah satunya tes formatif.
Selain untuk mengurangi kebiasaan buruk siswa, pemberian reward score (penambahan skor) dan punishment score  (pengurangan skor) juga bisa meningkatkan motivasi belajar dan kepercayaan diri siswa dalam pembelajaran matematika. Banyak dampak positif dalam pembelajaran dengan diberikannya reward yaitu hubungan guru dan siswa menjadi lebih erat, perhatian siswa pada matematika lebih meningkat, merangsang dan meningkatkan motivasi belajar matematika, meningkatkan kegiatan belajar matematika, dan membina tingkah laku siswa yang produktif. Sementara dampak pemberian punishment adalah menyadarkan siswa akan kesalahannya sehingga mereka akan termotivasi untuk menjadi lebih baik.
Penulis tertarik untuk menyelesaikan permasalahan–permasalahan tersebut. Penulis akan mencoba memberikan suatu tes yang dapat memberikan umpan balik guna mengetahui kelemahan dan kelebihan peserta didik dalam memahami materi, memotivasi belajar siswa, dan mengurangi kebiasaan buruk siswa pada saat menjawab soal tes pilihan ganda. Ada tes yang dapat membantu hal itu yaitu tes formatif pilihan ganda dengan reward dan punishment score. Penulis akan mencoba mencari tahu pengaruh pemberian tes formatif pilihan ganda dengan reward dan punishment score terhadap hasil belajar matematika.

B.       Tujuan penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui terdapat atau tidaknya pengaruh pemberian tes formatif pilihan ganda dengan reward dan punishment score tehadap hasil belajar matematika siswa pada pokok bahasan sistem persamaan linear dua variabel.
C.      Definisi  operasional
Tes formatif yang diberikan berupa tes pilihan ganda yang terdiri dari 5 butir soal dan 4 kemungkinan jawaban (4 pilihan). Tes formatif diberikan diakhir-akhir proses belajar mengajar yaitu 15 menit sebelum waktu belajar selesai. Reward dan punishment score yang dimaksud adalah memberikan point 4 kepada siswa yang menjawab benar, point -1 kepada siswa yang menjawab salah dan memberikan point 0 kepada siswa yang tidak memberikan jawaban.
Hasil belajar matematika yang dimaksud ialah skor hasil tes pokok bahasan  sistem persamaan linear dua variabel. Tes ini hanya mengukur aspek kognitif peserta didik meliputi pengetahuan, pemahaman, dan aplikasi. Pokok bahasan yang digunakanan dalam penelitian ini yaitu meliputi sistem persamaan linear dua variable : menjelaskan pengertian Persamaan Linear Dua Variabel, Penyelesaian Persamaan Linear Dua Variabel, Sistem Persamaan Linear Dua Variabel, Metode Grafik, Metode Eliminasi, Metode Substitusi, Metode Gabungan, Membuat model Matematika dan Menyelesaikan Masalah sehari-hari yang Melibatkan SPLDV, Menyelesaikan Sistem Persamaan Nonlinear Dua Variabel dengan Mengubah ke Bentuk SPLDV.
D.      KAJIAN PUSTAKA
1.      Hasil Belajar Matematika Siswa
Jika seseorang belajar matematika, maka setelah belajar kemampuannya akan bertambah terutama kemampuan dalam matematika. Perubahan kemampuan inilah yang dimaksud dengan hasil belajar matematika. Tentu saja hasil yang diharapkan guru adalah hasil yang terbaik. Oleh karena itu, guru harus berusaha dengan sekuat tenaga mengoptimalkan pembelajaran supaya siswa memperoleh hasil belajar matematika yang terbaik. Misalnya sering memberikan latihan soal atau memberikan tes karena dengan adanya latihan mengerjakan soal, siswa akan terbiasa untuk mengaplikasikan materi yang diberikan oleh guru untuk menyelesaikan soal-soal yang ada.
Kenyataan membuktikan bahwa dengan adanya pengulangan yang tidak membosankan dan melibatkan peserta didik dalam proses belajar dapat meningkatkan hasil belajar matematika yang diharapkan oleh guru. Untuk menyatakan bahwa suatu proses belajar mengajar berhasil dapat dilihat dari pemberian tugas dari guru dalam bentuk tes lisan, tes tulisan dan tindakan peserta didik dalam proses belajar. Menurut Djamarah (2006:105) Suatu proses belajar mengajar tentang suatu bahan pengajaran dinyatakan berhasil apabila tujuan instruksional dapat tercapai.
Menurut Purwanto (2009 : 5) tujuan evaluasi ialah untuk mendapatkan data pembuktian yang akan menunjukan sampai di mana tingkat kemampuan dan keberhasilan siswa dalam pencapaian tujuan-tujuan kurikuler. Di samping itu, juga dapat digunakan oleh guru-guru dan para pengawas pendidikan untuk mengukur atau menilai sampai diamana keefektifan pengalaman-pengalaman mengajar, kegiatan-kegiatan belajar, dan metode-metode mengajar yang digunakan.
Evaluasi dan latihan yang diberikan berfungsi sebagai bahan pertimbangan bagi guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar, sehingga guru dapat melihat hasil belajar dari peserta didik. Menurut Gagne (Dimyati, 2006 : 12) komponen hasil belajar terdiri dari 5 yaitu: (a) Informasi Verbal : kemampuan untuk mengungkapkan pengetahuan dalam bentuk bahasa, baik lisan maupun tertulis. (b) Kemampuan Intelektual : kecakapan yang berfungsi untuk berhubungan dengan lingkungan hidup, serta mempresentasikan konsep dan lambang. (c) Strategi Kognitif : kemampuan menyalurkan dan mengarahkan aktivitas kognitifnya sendiri. Kemampuan ini meliputi penggunaan konsep dan kaidah dalam pemecahan masalah. (d) Keterampilan Motorik : kemampuan melakukan serangkaian gerak jasmani dalam urusan dan koordinasi, sehingga terwujud otomatisme gerak jasmani. (e)  Sikap : kemampuan menerima atau menolak obyek berdasarkan penilaian terhadap obyek tersebut.
Hasil belajar matematika berupa kemampuan verbal adalah bertambahnya informasi tentang materi matematika baik itu di dapat dari guru ataupun sumber lainnya. Kemampuan intelektualnya adalah perubahan pada keterampilan menguasai konsep dan teori matematika. Sementara strategi kognitif yang merupakan hasil belajar matematika adalah perubahan pemirikan menjadi sistematis dalam pemecahan suatu masalah. Kemudian keterampilan motoriknya adalah perubahan pada kemampuannya menulis lambang-lambang matematika dan hasil belajar matematika yang merupakan sikap adalah perubahan emosionalnya dalam mengerjakan permasalahan matematika yang diberikan.
Dengan adanya evaluasi yang diberikan oleh guru dan dengan memperhatikan proses belajar yang sedang dilakukan oleh siswa, maka hasil belajar matematika akan tercapai dengan baik. Jadi belajar yang diarahkan oleh pengalaman dan pemecahan soal matematika akan memudahkan peserta didik dalam belajar dan hasil belajar diharapkan oleh guru dan orang tua siswa dapat tercapai dengan baik.
2.      Tes Formatif Pilihan Ganda dengan Reward dan Punishment Score
Tes yang digunakan untuk mencari umpan balik (feedback) guna memperbaiki proses belajar mengajar bagi guru maupun siswa disebut tes formatif. Gronlund (1985 : 12) dalam bukunya menuliskan : Formative evaluation is used to monitor learning progress during instruction and to provide continuous feedback to both pupil and techer concerning learning successes and failures.
Tes formaitif biasanya dilakukan pada akhir proses belajar mengajar, tapi bisa juga dilakukan pada saat proses belajar mengajar berlansung. Tes yang diberikan guru pada saat proses belajar mengajar bertujuan untuk mengecek atau mendapatkan informasi apakah siswa telah memahami apa yang diterangkan guru. Jadi guru bisa merubah dan memperbaiki cara belajarnya apabila banyak yang belum mengerti. Sesuai dengan fungsi tes formatif, maka aspek yang dinilai cenderung hanya segi kognitif dan psikomotor saja. Dimana segi kognitif dan psikomotor ini terdapat dalam tujuan khusus pengajaran.
Ahiri (2004 : 132) mengemukakan bahwa tes pilihan ganda pada dasarnya terdiri dari dua bagian, yaitu batang tubuh tes yang berupa pertanyaan pengantar atau pernyataan tidak lengkap (dalam penulisan ini disebut “pokok butir”) dan lebih dari kemungkinan jawaban. Secara teknis jawaban yang benar disebut kunci jawaban dan yang lainnya disebut pengecoh (penggagal, penyesat, atau pengganggu). Pengecoh berfungsi untuk mengalihkan perhatian siswa yang kurang pasti sikapnya terhadap jawaban yang benar. Jumlah alternatif jawaban pada umumnya empat atau lima (dinyatakan dalam huruf : a, b, c, d, dan/atau e). pokok butir mencakup semua informasi yang dibutuhkan untuk memperkenalkan butir tes.
Pengertian di atas sesuai dengan yang diungkapkan Gronlund (1993 : 40) dalam bukunya bahwa, The multiple-choice item consists of a stem, which present a situation, and several alternatives (options or choices) which provide possible solutions to the problem. The stem may be a question or an incomplete statement. The alternatives include the correct answer and several plausible wrong answers called distracters. The function of the latter is to distract those students who are uncertain of the answer.
Hamchek (1990 : 22) dalam bukunya menyebutkan “ Reward arouse good feeling about our selves, our work, and usually about those doing the rewarding”. Dari pengertian yang diungkapkan Hamchek tersebut ternyata reward bisa membangkitkan atau membangun perasaan baik siswa dalam belajar.  Jadi reward bisa meningkatkan reaksi diamana reward itu diberikan pada reaksi tersebut. Sebagai contoh, seorang siswa diminta mengerjakan soal matematika tentang sistem persamaan linear dua variabel, kemudian siswa itu mampu menjawab dengan benar dan guru memberikan dia sebuah pujian atau penghargaan lainnya. Maka siswa itu akan bersemangat untuk bisa mengerjakan soal-soal lain yang diberikan oleh gurunya sehingga dia akan giat belajar.
Jadi reward adalah penghargaan atau hadiah yang diberikan oleh seseorang (guru) kepada seseorang atau kelompok tertentu (siswa). Reward diberikan kepada siswa yang berhasil (mampu mengerjakan soal dengan baik). Reward yang diberikan itu merupakan sesuatu yang menyenangkan atau yang digemari oleh siswa, bisa berupa benda konkrit atau abstrak, misalnya pujian, perhatian, penghargaan, dan lain-lain.
Meurut Chaplin (2004 : 410) Dalam kamus lengkap psikologi, punishment adalah : 1. Penderitaan atau siksaan rasa sakit, atau rasa tidak senang pada seorang subjek, karena kegagalan dalam menyesuaikan diri terhadap suatu rangkaian perbuatan yang sudah ditentukan terlebih dahulu dalam satu percobaan. 2. Suatu perangsang dengan valensi negative, atau satu perangsang yang mampu menimbulkan kesakitan atau ketidaksenangan. 3. Pembebanan satu periode pengurungan atau penahanan pada seorang pelanggar yang sah.
Pemberian punishment pada siswa harus dalam tingkat kewajaran karena bila berlebihan akan membuat siswa menjauh dan takut untuk belajar matematika. Oleh karena itu pemberian punishment haruslah memenuhi syarat-syarat berikut : pemberian hukuman harus dalam cinta dan kasih sayang, didasarkan pada alasan “keharusan”, bisa menimbulkan kesan di hati siswa, diikuti pemberian maaf dan harapan serta kepercayaan, mengandung makna edukasi.
Selain syarat yang disebutkan di atas, pemberian punishment sebaiknya berdasarkan kesepakatan antara guru dan siswa atau dengan kata lain ada perjanjian dari kedua belah pihak. Misalnya seperti yang akan dilakukan dalam penelitian ini, memberikan score minus kepada siswa yang menjawab salah dalam menjawab soal yang diberikan. Pemberian score minus ini sebelumnya harus disampaikan telebih dahulu pada siswa supaya siswa tahu konsekuensi jika dia menjawab soal dengan salah.
E.       METODE PENELITIAN
1.      Desain penelitian
Penelitian ini merupakan quasi eksperimen. Pada kuasi eksperimen ini subyek tidak dikelompokkan secara acak, tetapi peneliti menerima keadaan subjek apa adanya. Penggunaan desain dilakukan dengan pertimbangan bahwa, kelas yang ada telah terbentuk sebelumnya, sehingga tidak dilakukan lagi pengelompokkan secara acak.
Penelitian dilakukan pada siswa dari dua kelas yang memiliki kemampuan setara. Kelompok pertama diberikan tes formatif pilihan ganda dengan reward dan punishment score. Kelompok pertama ini merupakan kelompok eksperimen, sedangkan kelompok kedua merupakan kelompok kontrol yang hanya diberikan tes formatif pilhan ganda.
2.      Subjek Penelitian
Penelitian  dilaksanakan di SMP Negeri 188 Jakarta. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa SMP Negeri 188 Jakarta tahun pelajaran 2011/2012. Sampel dalam penelitian ini adalah 30 siswa kelas VIII-A sebagai kelas eksperimen dan 30 siswa kelas VIII-B sebagai kelas kontrol.
 3.      Instrumen Penelitian
Data dalam penelitian ini  diperoleh dengan menggunakan instrumen yang disusun dalam bentuk tes pilihan ganda yang dijawab oleh responden secara tertulis. Instrumen yang digunakan berupa Tes Matematika.
Tes Matematika yang digunakan berupa tes hasil belajar matematika. Untuk memperoleh soal tes yang baik maka soal tes tersebut harus dinilai validitas, reliabilitas. Untuk mendapatkan validitas, reliabilitas maka soal tersebut terlebih dahulu diuji cobakan pada kelas lain disekolah pada tingkat yang sama. Untuk menghitung validitas butir soal reliabilitas menggunakan program Excel menggunakan rumus Point Biserial Correlation untuk menghitung validitas, sedangkan uji reliabilitas dihitung dengan rumus KR-20.
4.      Analisis Data
Untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh pemberian tes formatif pilihan ganda dengan reward dan punishment score terhadap hasil belajar matematika siswa pada pokok bahsan system persamaan linear dua variable perlu dilakukan uji perbedaan rerata. Uji normalitas digunakan untuk mengetahui normal atau tidaknya distribusi data yang menjadi syarat untuk menentukan jenis statistik yang  digunakan dalam analisis selanjutnya. Statistik yang digunakan untuk uji normalitas adalah uji Liliefors. Uji homogenitas untuk mengetahui apakah data yang diperoleh berasal dari populasi yang memiliki variansi homogen (sama). Pengujian homogenitas dalam hal ini dapat diuji menggunakan uji Fisher. Uji normalitas dan homogenitas variansi merupakan syarat untuk melakukan analisis data penelitian dengan menggunakan uji perbedaan dua rerata dengan menggunakan uji-t.
F.       HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Penelitian ini bertujuan untuk menelaah dan mendeskripsikan hasil belajar matematika siswa yang diberikan tes formatif pilihan ganda dengan reward dan punishment score. Data yang dianalisis adalah data hasil tes kelas eksperimen dan kelas kontrol untuk membandingkan hasil belajar matematika siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol setelah mendapatkan perlakuan berupa pemberian tes formatif pilihan ganda dengan reward dan punishment score pada kelas eksperimen dan pemberian tes formatif pilihan ganda sja pada kelas kontrol.
1.         Deskripsi Uji Coba Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian yang diujicobakan merupakan tes hasil belajar matematika pokok bahasan sistem prsamaan linear dua variabel sebanyak 35 soal pilihan ganda. Instrument penelitian ini diujicobakan kepada 38 siswa SMP yang telah mendapatkan pembelajaran materi yang bersangkutan. Jawaban soal dihitung validitasnya menggunakan rumus point Biserial Corellation dengan angka kasar dibanding dengan tabel r,   n = 38 didapat rtabel sebesar 0,320, dari 35 soal terdapat 24 soal yang valid dan 11 soal tidak valid. Reliabilitas dihitung dengan rumus KR-20 dan diperoleh harga 0,863.
Instrumen penelitian yang valid telah mewakili semua indikator dan jumlahnya lebih dari 60% dari instrumen yang telah diujicobakan. Instrument yang valid juga reliable setelah diuji reliabilitasnya, Sehingga instrumen yang valid dan reliabel tersebut dapat diberikan kepada siswa yang dijadikan objek penelitian untuk mengukur kemampuan kognitifnya.


2.         Deskripsi Data Hasil Penelitian
Data hasil belajar matematika siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol diolah dan didapatkan ukuran data seperti terlihat dalam tabel berikut:
Tabel 1
Ukuran Data Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol
                                        KELAS
UKURAN DATA
EKSPERIMEN
KONTROL
Skor maksimal
24
24
Skor tertinggi
22
21
Skor terendah
11
10
Mean
18,333
16,933
Median
19
18
Modus
19
18
Varians
6,368
8,064
Simpangan baku
2,523
2,840
 Pendeskripsian hasil belajar matematika siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol adalah sebagai berikut :
1.      Hasil Belajar Matematika Siswa di Kelas Eksperimen yang diberikan tes formatif pilihan ganda dengan reward dan punishment score
Dari pengolahan data tes hasil belajar pada kelas eksperimen diperoleh rentang skor 11 sampai 22. Median sebesar 19; Modus sebesar 19. Rata-rata skor sebesar 18,333; Simpangan baku sebesar 2,523. Dan diperoleh distribusi frekuensi dibawah ini.
Tabel 2
Distribusi Frekuensi Hasil Belajar Matematika Kelas Eksperimen
No
Interval
Titik
Batas
Frekuensi
Kelas
Tengah
Nyata
Absolut
Komulatif
Relatif
1
11-12
11,5
10,5-12,5
1
1
3,333333
2
13-14
13,5
12,5-14,5
2
3
6,666667
3
15-16
15,5
14,5-16,5
3
6
10
4
17-18
17,5
16,5-18,5
7
13
23,33333
5
19-20
19,5
18,5-20,5
13
26
43,33333
6
21-22
21,5
20,5-22,5
4
30
13,33333
Jumlah
30

100
  1. Hasil Belajar Matematika Siswa di Kelas kontrol yang tidak diberikan tes formatif pilihan ganda dengan reward dan punishment score.
Dari pengolahan data tes hasil belajar pada kelas kontrol mempunyai rentang skor 10 sampai 21. Median sebesar 18; Modus sebesar 18. Rata-rata skor sebesar 16,933; Simpangan baku sebesar 2,7. Dan diperoleh Distribusi frekuensi di bawah ini.
Tabel 3
Distribusi Frekuensi Hasil Belajar Matematika Kelas Kontrol
No
Interval
Titik
Batas
Frekuensi
Kelas
Tengah
Nyata
Absolut
Komulatif
Relatif
1
10-11
10,5
9,5-11,5
2
2
6,666667
2
12-13
12,5
11,5-13,5
2
4
6,666667
3
14-15
14,5
13,5-15,5
4
8
13,33333
4
16-17
16,5
15,5-17,5
5
13
16,66667
5
18-19
18,5
17,5-19,5
14
27
46,66667
6
20-21
20,5
19,5-21,5
3
30
10
Jummlah
30

100
 3.      Pengujian Persyaratan Hipotesis
Sebelum melakukan pengujian hipotesis, dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas untuk kenormalan dan kehomogenan data.
a. Uji Normalitas
Uji normalitas kelas eksperimen dilakukan dengan menggunakan uji lilliefors, dan hasil pengujian pada kelas eksperimen diperoleh L0=0,121 dan Ltabel = 0,161 pada signifikansi a = 0,05, untuk n = 30. Karena L0=0,121 < 0,161=Ltabel maka kelas eksperimen berdistribusi normal.
Dari pengujian normalitas kelas konrol diperoleh harga L0 = 0,137 dan Ltabel = 0,161 pada signfifikansi a = 0,05, untuk n = 30. L0=0,137<0,161=Ltabel maka kelas kontrol berdistribusi normal.


Tabel 4
Nilai Hasil Uji Normalitas
Kelas
L0
Ltabel
Keterangan
Ekperimen
0,121
0,161
Valid
Kontrol
0,137
Valid
b. Uji Homogenitas
Uji homogenitas atau uji kesamaan dua variabel populasi kedua kelas dilakukan dengan uji Fisher didapatkan Ftabel = 0,538 < Fhitung = 1,266 < 1,858 = Ftabel  Sehingga dapat disimpulkan bahwa dari data kedua  kelas tersebut mempunyai varians yang sama. Dengan demikian kedua kelas tersebut adalah homogen setelah diberikan perlakuan.
Tabel 5
Nilai Hasil Uji Homogenitas
Fhitung
Ftabel
Keterangan
kiri
kanan
1,266
0,161
1,858
Homogen
4.      Hasil Pengujian Hipotesis
Hipotesis yang dirumuskan menyatakan bahwa hasil belajar matematika pada kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan dengan hasil belajar pada kelas kontrol. Tabel di bawah ini dapat menggambarkan kebenaran hipotesis yang dirumuskan.
Tabel 6
Nilai Hasil Uji Hipotesis
thitung
ttabel
Keterangan
H0
H1
2,0202
1,671
Tolak
Terima





 Berdasarkan hasil perhitungan didapat thitung = 2,0202 dengan menggunakan taraf signifikan a = 0,05 dengan dk = 58 diperoleh ttabel = 1,671. Maka terima H0 dan tolak H1, jika  atau jika thitung berada di daerah penerimaan, ternyata dari hasil perhitungan thitung berada di luar daerah penerimaan H0 atau dengan kata lain H0 ditolak. Maka hal ini menunjukkan adanya pengaruh pemberian tes formatif pilihan ganda dengan reward dan punishment score terhadap hasil belajar mateamtika siswa pada pokok bahasan sisitem persamaan linear dua variabel.
5.      Penafsiran Hasil Pengujian Hipotesis
Dengan ditolaknya Ho dari hasil pengujian hipotesis uji-t pada taraf signifikansi α = 0,05 dapat disimpulkan bahwa pemberian tes formatif pilihan ganda dengan reward dan punishment score memberikan pengaruh yang baik terhadap hasil belajar matematika siswa. Hasil pengujian juga membuktikan bahwa adanya pengaruh terhadap hasil belajar siswa bukan suatu kebetulan, tetapi karena adanya perlakuan yang diberikan kepada kelompok siswa, sehingga dapat disimpulkan bahwa pemberian tes formatif pilihan ganda denngan reward dan punishment score memberikan pengaruh positif terhadap hasil belajar matematika siswa.
G.      SIMPULAN
Dengan tingkat signifikansi 0,05 dan ttabel = 1,671 maka hipotesis nol ditolak. Artinya, terdapat pengaruh pemberian tes formatif dengan reward dan punishment score terhadap hasil belajar matematika siswa pada pokok bahasan sistem persamaan linear dua variabel. Hal ini juga terlihat dari rata-rata hasil belajar matematika siswa yang diberikan tes formatif pilihan ganda dengan reward dan punishment score yang lebih baik daripada rata-rata siswa yang diberikan tes formatif pilihan ganda tanpa reward dan punishment score.
 H.      DAFTAR PUSTAKA
Ahiri, J. 2008. Teknik Penilaian Kelas Dalam Pembelajaran. Jakarta : Uhamka Press
Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian; Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: PT Rineka Cipta
                  . 2009. Dasar2 evaluasi pendidikan.Ed.Revisi,cet.10. Jakarta: PT Rineka Cipta
Arsyad, A. 1995.  Media Pembelajaran. Jakarata :PT Raja Grafindo Persada
Bloom, B.S.,dkk. 1982. Evaluation To Improve Learning. New York : McGraw-Hill
Chaplin J.P. 2004. kamus lengkap psikologi. Jakarta: Raja Grapindo Persada
Dimyati dan Mudjiono. 2006. Belajar dan pembelajaran. jakarta: Rineka Cipta
Djamarah, S.B. 2006.Strategi Belajar mengajar. Jakarta : Rineka Cipta
____________. 2008.Psikologi Belajar. Jakarta : Rineka Cipta

Elliot, S.N. 2000. Educational Psychology : Effective Teaching, Effective Learning.3th ed. Singapore : McGraw-Hill.
Gronlund, N.E. How to Make Acheivement Test and Assessments-5thed-. Amerika: Allyn and Bacon
                 .1985.Measurment and Evaluation in Teaching,5th edition.New York:Macmillan Publishing Company
Hakim, T. 2000. Belajar Secara Efektif,--Cet 1--. Jakarta : Puspa Swara
Hamchek, D. 1990. Psychology in Teaching Learning, and Growth. USA:McGrow-Hill
Nasution, A.H. 1982. Landasan Matematika. Jakarta : Bhratara Karya Aksara
Nasution, S. Didaktik Azas-Azas Mengajar. Bandung : Jemmars
Perhimpunan SPMB. 2008. Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri. Jakarta : P-SPMB.
Purwanto, M.N. 2009. Prinsif-Prinsif dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Bandung: PT.REMAJA ROSDA KARYA.
Reys, R.E., dkk. 1998. Helping Children Learn Mathematics-5th ed. America:Allyn and Bacon
Rohani, A. 2010. Pengelolaan Pengajaran (Sebuah Pengantar Menuju Guru Profesional). Jakarta:PT.Rineka Cipta
Sagala, S.H. 2006. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta
Sardiman A.M. 2011. Interaksi dan Motivasi Belajar. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada
Simanjuntak, L. 1993. Metode Mengajar Matematika. Jakarta : Rineka Cipta
Sudijono, A. 1996. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : PT Raja Grafindo
Sudjana. 2005. Metode Statistika. Bandung: Tarsito
Sugiyono. 2003. Statistika untuk Penelitian. Bandung : Alfabeta
               . 2003. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung : UPI
Tim FKIP UHAMKA. 2007. Pedoman Penulisan Skripsi. Jakarta : FKIP UHAMKA